.

.

Memalukan, Anggota DPRD Sumut Ribut karena Duit

Kawar Rekawan Saka Brahmana bilang sungguh memalukan hal ini sampai terjadi. Seharusnya para wakil rakyat itu bisa menunjukkan kualitas dan bekerja secara profesional. Bila pun ada masalah pribadi atau internal dari partai mereka, tak sewajarnya dan tak sepantasnya para wakil rakyat bertingkah laku seperti anak kecil demikian.
Bukankah seharusnya para wakil rakyat itu bertingkah dan berperilaku secara santun, tegas dan bersinergi. Bukannya malah menunjukan sikap tak ada bedanya seperti seorang tak berpendidikan dan tak bertata krama seperti itu. Ada-ada saja tingkah para pejabat negara tercinta ini.

Menurut Bang AM (Tongku Koharuddin), sudah tidak heran lagi, perilaku dan sikap wakil rakyat kita sekarang. Kalau Gusdur menyebutkan persis anak TK, kenyataannya iya kali ! Kalau bertengkar berkaitan dengan uang bukan luar biasa. Sebab kalau jujur mereka menjelaskan kepada kita, berapa uangnya habis ketika pencalonan.

Terus, siapa yang membuat mereka melakukan tindakan yang diduga bisa menyalahi aturan? Tanpa terlepas dari perilaku masyarakatnya yang doyan menerima bayaran untuk memilih ? Bukan kualitas dan integritas jadi pedoman, melainkan nilai nominal yang mereka terima. Jadi, kita menonton wakil kita sendiri.

"Sulit berharap, karena berharap sedikit saja nampaknya tidak terealisasikan," keluh Bang AM (Tongku Koharuddin). Halim Saragi merasa prihatin dengan tindakan para wakil rakyat tersebut, terlebih perkelahian disaksikan oleh para wartawan. Terlepas uang apa yang diperebutkan dan kasus apa yang mau dibongkar terkait uang Rp 50 juta itu, tapi kami para rakyat -khususnya masyarakat Kabupaten Asahan, Kabupaten Batubara, dan Kotamadya Tanjungbalai yang merupakan daerah pemilihan Mustofawiyah Sitompul- menilai ini sangat memalukan !

"Saya menyarankan agar Badan Kehormatan DPR agar memanggil dua oknum anggota DPRD Sumut tersebut dan meminta Kepada BK DPRD Sumut transparan di dalam melakukan pemeriksaan serta mengusut tuntas perihal uang Rp 50 juta yang menjadi dasar perang kata-kata di antara dua oknum wakil rakyat tersebut," pinta Halim Saragi.

Janto Simamora
mengaku malu mendengar Wakil pilihan rakyat adu mulut. Rakyat sudah bosan melihat tingkah mereka, karena jika dibahas pun toh juga mereka akan seperti itu. Mulai dari DPR-RI hingga DPRD Propinsi adu mulut. Kalau seperti ini terus mau dibawa ke mana NKRI ini. Kasus yang sama terjadi lagi. Rakyat malu mendengar Wakil pilihan rakyat adu mulut.

Jadi kerjanya kapan? Bahkan jika kita melihat pernyataan Guntur Manurung kita bisa memertanyakan ada apa? Uang apa yang mereka bahas? Ini adalah masalah serius. Jangan-jangan uang yang mereka persoalkan adalah uang rakyat. Ataukah uang korupsi sehingga Guntur Manurung mengancam akan membongkar semuanya?

Diharapkan Ketua DPR sumut memeriksa dan mendamaikan mereka berdua, karena tingkah mereka merendahkan integritas seorang anggota DPRD. Anak SD saja tak begitu. Pak kustofowiyah juga seharusnya mengembalikan uangnya. Jangan gara-gara uang negara ini rusak, dan kinerja wakil kami yang terhornat tak nampak.

Post Comment

0 komentar: